Rabu, 29 Oktober 2014

Gunadarma-4ea19-utilitarianisme



Utilitarianisme
Utilitarianisme adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan bahwa suatu tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan. "Utilitarianisme" berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory). Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Bentham dan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.
     Utilitarianisme dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1784 – 1832). Dalam ajarannya Ultilitarianisme itu pada intinya adalah “ Bagaimana menilai baik atau buruknya kebijaksanaan sospol, ekonomi dan legal secara moral” (bagaimana menilai kebijakan public yang memberikan dampak baik bagi sebanyak mungkin orang secara moral). Etika Ultilitarianisme, kebijaksanaan dan kegiatan bisnis sama – sama bersifat teologis. Artinya keduanya selalu mengacu pada tujuan dan mendasar pada baik atau buruknya suatu keputusan.

     Teori Tujuan Perbuatan
     Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan, manfaat, dan keuntungan yang dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan. Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi sebagian besar orang. Dengan demikian, perbuatan manusia baik secara etis dan membawa dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain.

      NILAI POSITIF ETIKA UTILITARIANISME
   Etika utilitarianisme memiliki daya tarik tersendiri yang melebihi daya tarik etika deontologis. Yang paling mencolok, etika utilitarianisme tidak memaksakan ssesuatu yang asing kepada kita. Etika ini justru mensistematisasikan dan memformulasikan secara jelas apa yang menurut pada penganutnya dilakukan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa sesungguhnya dalam kehidupan kita, dimana kita selalu dihadapkan pada berbagai alternatif dan dilema moral, kita hampir selalu menggunakan pertimbangan diatas. Etika ini menggambarkan apa yang sesungguhnya dilakukan oleh orang yang rasional dalam mengambil keputusan, khususnya keputusan moral, termasuk dalam bidang bisnis. Ia merumuskan prosedur dan pertimbangan yang banyak digunakan dalam mengambil sebuah keputusan, khususnya yang menyangkut kepentingan orang banyak.
       Secara lebih khusus, daya tarik ini terutama didasarkan pada tiga nilai positif dari etika ini. Ketiganya berkaitan dengan kriteria dan prinsip yang telah disebutkan. Nilai positif pertama adalah rasionalitasnya, maksudnya prinsip moral yang mungkin tidak kita pahami dan yang tidak bisa kita persoalkan keabsahannya. Justru sebaliknya, utilitarianisme memberi kriteria yang objektif mengapa suatu tindakan dianggap baik.
     Kedua, utilitarianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Setiap orang dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan hanya memberinya ketiga kriteria objektif dan rasional tadi. Tidak ada paksaan bahwa orang harus bertindak sesuai dengan cara tertentu yang mungkin tidak diketahuo alasannya mengapa demikian. Jadi, tindakan baik itu kita putuskan dan pilih sendiri berdasarkan kriteria yang rasional bukan sekedar mengikuti tradisi, norma, atau perintah terntentu.
     Ketiga, unsur positif yang lain adalah universalitasnya, yaitu berbada dengan etika teleologi lainnya yang terutama menekankan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, etika utilitarianisme justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang. Suatu tindakan dinilai baik secara moral bukan karena tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar bagi orang yang melakukan, melainkan karena tindakan itu mendatagkan manfaat terbesar bagi semua orang yang terkait, termasuk orang yang melakukan tindakan itu. Karena itu, utilitarianisme tidak bersifat egoistis. Semakin banyak orang yang terkena akibat baik suatu kebijaksanaan atau tindakan, semakin baik tindakan tersebut. Jadi, etika ini tidak mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan kepentingan pribadi atau berdasarkan akibat baiknya demi diri sendiri dan kelompok sendiri.


     ANALISA KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
          
Dalam bidang ekonomi, etika utilitarianisme punya relevansi yang kuat dan dapat ditemukan dalam beberapa teori ekonomi yang populer. Sebut saja misalnya prinsip optimalis dari Pareto, yang menilai baik buruknya suatu sistem ekonomi. Suatu sistem ekonomi akan dinilai lebih baik kalau dalam sistem itu paling kurang satu orang menjadi lebih baik keadaannya dan tidak ada orang yang menjadi lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan sistem lainnya. Berdasarkan prinsip ini, pasar misalnya dianggap paling baik karena memungkinkan konsumen memperoleh keuntungan secara maksimal. Dengan kata lain, suatu sistem dinilai lebih baik karena mendatangkan manfaat lebih besar dibandingkan dengan sistem alternatif lainnya.
     Dalam ekonomi, etika utilitarianisme juga relevan dalam konsep efisiensi ekonimi. Prinsip efisiensi menekankan agar dengan menggunakan sumber daya sekecil mungkin dapat dihasilkan produk sebesar-besarnya. Dengan menggunakan sumber daya secara hemat harus bisa dicapai hasil yang maksimal. Karena itu, semua perangkat ekonomi harus dikerahkan sedemikian rupa untuk bisa mencapat hasil terbesar dengan menggunakan sumber daya sekecil mungkin. Ini prinsip dasar etika utilitarianisme.
     Dalam bidang bisnis, etika utilitarianisme juga mempunyai relevansi yang sangat kuat. Secara khusus etika ini diterapkan, secara sadar atau tidak, dalam apa yang dikenal dalam perusahaan sebagai the cost and benefit analysis. Yang intinya berarti etika ini pun digunakan dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan bisnis atau perusahaan, dalam segala aspek.
     Langkah konkrit yang perlu dilakukan dalam membuat sebuah kebijaksanaan bisnis adalah mengumpulkan dan mempertimbangkan alternatif kebijaksanaan dan kegiatan bisnis sebanyak-banyaknya. Semua alternatif kebijaksanaan dan kegiatan itu terutama dipertimbangkan dan dinilai dalam kaitan dengan manfaat bagi kelompok-kelompok yang berkepentingan atau paling kurang, alternatif yang tidak merugikan semua kelompok yang terkait dengan kepentingan tersebut.



   KELEMAHAN ETIKA UTILITARIANISME
     Dibawah ini menyinggung beberapa kelemahan etika utilitarianisme, tanpa bermaksud melangkah lebih jauh ke dalam pendekatan fisiologis mengenai kelemahan-kelemahan tersebut, yaitu:
a. Manfaat merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan malah menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. Karena, manfaat bagi manusia berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Sebuah tindakan bisnis bisa sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi sekelompok orang, tetapi bisa sangat merugikan bagi kelompok lain. Masuknya industri ke daerah pedesaan bisa sangat menguntungkan bagi sebagian penduduk desa, tetapi bahi yang lain justru merugikan karena hilangnya udara bersih dan ketenangan di desa. Mengimpor buah-buahan luar negeri bisa sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi konsumen di daerah perkotaan tetapi tindakan yang sama bisa sangat merugikan petani lokal. Maka, suhubungan itu terjadi kesulitan, siapa yang memutuskan kepentingan siapa lebih penting daripada kepentingan orang lain. Siapa yang memutuskan manfaat yang diperoleh kelompok tertentu lebih penting dari pada manfaat yang diperoleh kelompok lain
 b. Persoalan klasik yang lebih filosofis adalah bahwa etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius nilai suatu tindakan pada dirinya sendiri, dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. Padahal, sangat mungkin terjadi suatu tindakan pada dasarnya tidak baik, tetapi ternyata mendatangkan keuntungan atau manfaat.
c.  Dalam kaitan dengan itu, etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan atau motivasi baik seseorang. Akibatnya, kendati seseorang mempunya motivasi yang baik dalam melakukan tindakan tertentu, tetapi ternyata membawa kerugian yang besar bagi banyak orang, tindakan itu tetap dinilai tidak baik dan tidak etis. Padahal, dalam banyak kasus, sering kita tidak bisa meramalkan dan menduga secara persis konsekuensi atau akibat dari suatu tindakan. Sangat mungkin terjadi bahwa akibar yang merugikan dari suatu tindakan tidak dilihat sebelumnya dan baru diketahui lama sesudahnya.
d. Variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Karena itu, sulit mengukur dan membandingkan keuntungan dan kerugian hanya berdasarkan variabel yang ada. Secara khusus sulit untuk menilai dan membandingkan variabel moral yang tidak bisa dikuantifikasi. Polusi udara, hilangnya air bersih, kenyamanan dan keselamatan kerja, kenyamanan produk, dan seterusnya, termasuk nyawa manusia, tidak bisa dikuantifikasi dan sulit bisa dipakai dalam menilai baik buruknya suatu tindakan berdasarkan manfaat-manfaat ini.
e.   Seandainya ketiga kriteria dari utilitarianisme sangat bertentangan, ada kesulitan cukup besar untuk menentukan prioritas diantara ketiganya.
f.  Kelemahan paling pokok dari etika utilitarianisme adalah bahwa utilitarianisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Jadi, kendati suatu tindakan merugikan bahkan melanggar hak dan kepentingan kelompok kecil tertentu, tapi menguntungkan sebagian besar orang yang terkait, tindakan itu tetap dinilai baik dan etis. Artinya, etika utilitarianisme membenarkan penindasan dan ketidakadilan demi manfaat yang diperoleh sebagian besar orang. Dengan hanya mendasarkan diri pada manfaat keseluruhan, etika utilitarianisme membenarkan suatu tindakan, tanpa menghiraukan kenyataan bahwa tindakan yang sama ternyata merugikan segelintir orang tertentu. Jadi, suatu keijaksanaan bisnis akan dinilai baik dan etis kalau menguntungkan.



Sabtu, 17 Mei 2014

Cerpen PUTRI NARITA SARI/15211651/3EA19



Kisah Cinta Antara Yang Kaya Dan Miskin
Pada suatu ketika tinggallah seorang pemuda Jawa yang bernama Sutarno, umurnya 25 tahun, wajahnya cukup tampan namun orangtuanya bekerja hanya sebagai buruh tani dan menetap didaerah Karawang – Jawa Barat.
Pada suatu hari, ayahnya memerintahkan Sunarto untuk merantau ke Jakarta mencari pekerjaan.?
“Tole, lungo kowe merantau nyang Jakarta” kata Ayah,
 “Enggeh Pa’e, tapi piye karo Pa’e?” jawab Sunarto,
“Yowes tole, lungo lah kowe neng Jakarta” Sambung Ayah,
“Iya pa’e” jawabnya,
“Tapi, tetalah kowe ingat karo Gusti Allah” Ibu menasihati,
Sunarto pun pergi menaiki kereta api sembari membawa beberapa makanan khas jawa yang diberikan orang tuanya untuk mengisi perutnya, seperti dodol, wajik,dan combro. Singkat cerita Sunarto sudah sampai di Stasiun Kota, dan ia bertanyapada seorang bapak disana….
“Permisi pak, Aku mau Tanya, disekitar sini ada lowongan kerja ndak?”
“Ada mas, setau saya ada lowongan kerja menjadi loper Koran didekat Bank Nasional sana”
“Oh begitu ya pak, makasih pak, monggo”
“Iya nak hati-hati nak”
            Singkat Cerita, karena tak memiliki ijazah sekolah Sutarno bekerja menjadi peloper Koran. Sehari-hari ia bertugas mengantar Koran kerumah-rumah pelanggan, hingga pada suatu saat ketika ia mengantar Koran, ia bertemu wanita cantik asal betawiyang bernama Romlah yang berumur 24 tahun, pada pandangan pertama Sutarno pun langsung jatuh hati kepada Romlah yang merupakan anak orang kaya dimana ayahnya pergi meninggalkan ibunya dan dirinya. Romlah juga jatuh cinta pada pria tampan yang merupakan pengantar korannya.
            Keesokan harinya saat Sunarto bekerja, ia menyempatkan menemui Romlah tanpa sepengetahuan Ibunya yang bernama Ibu Eni. Mereka berdua berbincang sebentar hingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan cinta tanpa diketahui Ibunya.
            Sunarto pun senang dan mengajak Romlah untuk mengendarai sepeda sembari ia bekerja. Satu bulan,,, dua bulan hubungan merekapun lancer hingga pada bulan yang ketiga, Ibu Eni mengetahui bahwa anaknya menjalin hubungan dengan Sipeloper Koran. Beliau pun marah besar kepada anak semata wayang nya itu.
“Romlah, mengapa kamu menjalin hubungan dengan pemuda itu?” Omelnya
“Mengapa bu? Aku cinta dia bu” jawab Romlah
Apa ?? Cinta ?? Apakah ayahmu mencintai Ibu? Ia meninggalkan kita nak.
Apakah reaksi teman bisnis Ibu jika pacar kamu merupakan orang miskin? Malu nak malu!”
“Ibu, cinta tidak bergantung pada harta bu, cintaku tulus kok bu ke dia”
“Takusah kau membela Pemuda Jawa itu, Ibu takmau dia akan meninggalkan kamu seperti ayahmu yang orang Jawa itu meninggalkan kita, ibu tak mau, sakit hati ibu”
“Tak semua orang jawa seperti ayah bu”
Sudahlah, minggu depan akan ibu jodohkan kamu dengan anak rekan bisnis ibu, dia jauh lebih tampan dan kaya disbanding pacar kamu”
            Mendengar ia akan dijodohkan, hati Romlah pun sakit dan member tau kepada Sunarto keesokan harinya. Ketika Sunarto mendengar cerita Romlah, ia pun rela melepaskan Romlah untuk menikah dengan pria yang dijodohkan Ibunya Romlah, namun romlah takmau karena beralasan dirinya sangat cinta, Romlah pun meminta Sunarto untuk mengajak ia pergi jauh dari ibunya. Keesokan harinya Romlah dan Sunarto bersiap-siap pergi ke Karawang.
Romlah meninggalkan sepucuk surat kepada ibunya yang berisi :
“Bu, aku dan Sunarto pergi, kami memutuskan untuk pergi karena aku tak maudijodohkan oleh ibu, Aku tau Sunarto memang pria yang miskin tapi perasaanku yang cinta kepadanyayang membuat aku tetap ingin bersamanya. Ibu tak perlu khwatir karna aku akan aman bersama Sunarto Salam”.Membaca surat ini, menangislah Ibu, ia merasa bersalah kepada anaknya. Ia pun melaporkan kepada polisi untuk mencari Romlah, anaknya.
            Sementara itu Romlah dan Sunarto menaiki bus untuk sampai ke Karawang,namun ditengah perjalanan bus itu mengalami kecelakaan dan terjun ke jurang. Kecelakaan ini pun dumuat dalam program berita televisi.   Mendengar kabar ini, Ibu Enid an kedua orangtua Sunarto langsung mendatangi lokasi kecelakaan dengan hati cemas apakah anak mereka selamat atau tidak. Dan ternyata mukjizat terjadi,beberapa penumpang selamat termasuk Romlah dan Sunarto. Orangtua mereka pun sangat gembira.
            Dan keesokan harinya Ibu Eni merestui anaknya menikah dengan Sunarto, dan orangtua Sunarto pun juga senang anaknya akan menikah. Tepat satu minggu setelah kecelakaan Sunarto-Romlah pun menikah dan tejadi asimilsi antara 2 adat mereka yang berbeda. Kini pasangan itu pun sudah menjadi keluarga dan hidup  sebagai pasangan yang bahagia selamanya.
SELESAI


Penjelasan

Tokoh              :
Ibu Eni (Ibu kandung dari Romlah)
Sunarto
Romlah
Kedua Orangtua Sunarto

Sinopsis           :
Sudut pandang : Orang ketiga. Tidak sebagai pelaku.
Tema               : Percintaan
Setting             :
Alur/Plot         : Maju (progesif)
Penokohan      : Rumah dan di perjalanan
Romlah            : Ambisius,percaya diri,alim, baik, pintar
Sunarto            : Sabar, setia, sopan, taat
Penyelesaian    : Bahagia (Happy Ending)
Amanat           :Bahwa kita harus bersyukur dengan apa yang telah diberikan Tuhan dan senantiasa bersabar dalam menghadapi permasalahan, serta cinta yang sejati hanya pantas tercurahkan kepada Sang Maha Pencipta.
Tokoh Protagonis        : Romlah dan Sunarto
Tokoh Antagonis        : Ibu Eni (Ibu nya Romlah)

Selasa, 22 April 2014

Proposal penelitian



PELAKSANAAN PELATIHAN DALAM UPAYA
MENINGKATKAN PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA
 PT. SHARP YASONTA INDONESIA

BAB I
1.1       Latar Belakang Masalah
            Dalam menghadapi pasar bebas yang penuh dengan persaingan dan begitu banyak perusahaan yang memproduksi alat elektronik seperti radio, televise, dan kulkas, membuat PT. SHARP YASONTA INDONESIA dituntut untuk terus memperhatikan dan meningkatkan serta memperbaiki kualitas produk yang dihasilkannya guna menembus pangsa pasar.
            Cara yang dilakukan oleh PT. SHARP YASONTA INDONESIA adalah dengan memperbaiki mutu kerja karyawan, karena salah satu faktor yang memegang peran penting dalam perkembangan perusahaan adalah karyawan. Baik buruknya pembinaan karyawan ikut menentukan sukses tidaknya setiap usaha perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Sehinga dapat dikatakan bahwa karyawan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan pencapaian tujuan perusahaan.
            Untuk mencapai tujuan perusahaan, maka setiap karyawan perlu diberikan pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan itu disesuaikan dengan kemampuan setiap karyawan yang tujuannya agar setiap karyawan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan meningkatkan prstasi kerja karyawan itu sendiri.
            Jadi sehubungan dengan penjelasan seperti diatas, maka penulis tertarik dalam menyusun penulisan ilmiah ini dengan judul ‘’Pelaksanaan Pelatihan Dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Kerja Karyawan Pada PT. Sharp Yasonta Indonsia”.
            Alasan pemilihan judul karena bagi perusahaan karyawan adalah salah satu faktor utama dalam menentukan keberhasilan produk yang dipasarkan.


1.2       Tujuan Penelitian
            Adapun maksud dan tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui jenis program pelatihan pada PT. Sharp Yasonta Indonesia khusunya dibagian  quality control .
2.  Mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap aktivitas tenaga kerja yang berkaitan dengan peningkatan prestasi kerja yang berpengaruh pada peningkatan produk pada PT. Sharp Yasonta Indonesia. 
1.3       Rumusan Masalah
Bagaimana cara yang dilakukan oleh PT. Sharp Yasonta Indonesia agar para karyawan  mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik, sehingga mampu memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya.

1.4       Manfaat Penelitian
            Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah:
            1. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan pelatihan kerja khususnya bidang Sumber Daya Manusia.
            2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan suatu masukan bagi pihak manajemen  perusahaan dalam membuat kebijakan perusahaan untuk meningkatkan kualitas, sebagai suatu perwujudan dari fisiensi dan efektifitas perusahaan dalam menjalankan roda usahanya.













BAB II
LANDASAN TEORI

ANALISIS SWOT


SWOT adalah akronim untuk kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dari lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005:46), SWOT digunakan untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan-tantangan yang dihadapi.

Menurut David (Fred R. David, 2008,8), Semua organisasi memiliki kekuatan dan kelemahan dalam area fungsional bisnis. Tidak ada perusahaan yang sama kuatnya atau lemahnya dalam semua area bisnis.
Kekuatan/kelemahan internal, digabungkan dengan peluang/ancaman dari eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan strategi.Tujuan dan strategi ditetapkan dengan maksud memanfaatkan kekuatan internal dan mengatasi kelemahan.

Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT (David,Fred R.,2005:47) yaitu :
1. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut daoat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat meruoakan sumber dari kelemahan perusahaan.
3. Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasokk merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.
4. Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.
Fungsi SWOT
Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari Analisis SWOT adalah untuk mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan eksternal (peluang dan ancaman).

Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk memenuhi pemasukan yang diinginkan.

Analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan analisis dalam usaha penetapan strategi. Umumnya yang sering digunakan adalah sebagai kerangka / panduan sistematis dalam diskusi untuk membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.
Matriks SWOT
Menurut Rangkuti (2006), Matriks SWOT dapatmenggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternalyang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dankelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif strategis.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkzBmCkFSItnqD3u3vFA54_oILw-MxwbE0TTwMqLhxoSAp3Vt1RpWPsM-1zB2Kw_kpQq-Dtwyz8Am77gUpLK6-qo7inCUAeGxs_revDKNvDK2krruVLjwTQa2q7In7bHadAx_sFX9hc8Y/s400/Matrik+SWOT.jpg

Berikut ini adalah keterangan dari matriks SWOT diatas :
  1. Strategi SO  (Strength and Oppurtunity). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
  2. Strategi ST (Strength and Threats). Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
  3. Strategi WO (Weakness and Oppurtunity). Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
  4. Strategi WT (Weakness and Threats). Strategi ini berdasarkan kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.




















BAB III
Metode Pengumpulan Data


Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya menggunakan atau ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kuantitatif, criteria utama terhadap data hasil penelitian adalah valid, reliabel, dan obyektif. Validitas merupakan derajad ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan dmikian pentingnya validitas dalam sebuah penelitian menentukan kebenaran dari objek yang diteliti.
Di dalam penulisan sangat dibuthkan adanya Analisis Data, Validitas Data dan Reliabilitas Data untuk menentukan seberapa besarlah derajad ketepatannya.
Oleh sebab itu penulis menyusun makalah yang berjudul Analisis Data, Validitas Data dan Reliabilitas Data untuk membahas mengenai pengertian , kegunaan, serta langkah-langkah analisis data.

PENGERTIAN DAN KEGUNAAN
  1. Analisis Data
Kata analysis berasal dari bahasa Greek (Yunani), terdiri dari kata “ana” dan “lysis“. Ana artinya atas (above), lysis artinya memecahkan atau menghancurkan. Secara difinitif ialah: ”Analysis is a process of resolving data into its constituent components to reveal its characteristic elements and structure” Ian Dey (1995: 30). Agar data bisa dianalisis maka data tersebut harus dipecah dahulu menjadi bagian-bagian kecil (menurut element atau struktur), kemudian menggabungkannya bersama untuk memperoleh pemahaman yang baru. Analisa data merupakan proses paling vital dalam sebuah penelitian. Hal ini berdasarkan argumentasi bahwa dalam analisa inilah data yang diperoleh peneliti bisa diterjemahkan menjadi hasil yang sesuai dengan kaidah ilmiah. Maka dari itu, perlu kerja keras, daya kreatifitas dan kemampuan intelektual yang tinggi agar mendapat hasil yang memuaskan. Analisis data berasal dari hasil pengumpulan data. Sebab data yang telah terkumpul, bila tidak dianalisis hanya menjadi barang yang tidak bermakna, tidak berarti, menjadi data yang mati, data yang tidak berbunyi. Oleh karena itu, analisis data di sini berfungsi untuk mamberi arti, makna dan nilai yang terkandung dalam data itu (M. Kasiram, 2006: 274).
Seperti yang dikemukakan oleh Susan Stainback bahwa “Data analysis is critical to the qualitative research process. It is to recognition, study, and understanding of irrelationship and concept in your data that hypotheses and assertions can be developed and evaluated”(Sugiyono:244), yang artinya Analisis data merupakan hal yang kritis dalam proses penelitian kulitatif. Analisis digunakan untuk memahami hubungan dan konsep dalam data sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievalusi.
Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Spradley (1980) menyatakan bahwa Analisis dalam penelitian apapun adalah merupakan cara berfikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian, hubungan antar bagian dan hubungannya dengan keseluruhan. Analisis adalah untuk mencari pola.
Bedasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasidengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, ,memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Analisis data merupakan tahap akhir sebelum adanya kesimpulan dilakukan. Selanjutnya adalah pembentukan hipotesa sebagai dugaan sementara sebuah penelitian. Jadi dapat dikatakan bahwa analisis data digunakan untuk pembuktian dari hipotesa yang telah dibuat sebelumnya

  1. Validitas data
Validitas data merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti.

  1. Reliabilitas data
Reliabilitas data adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dipakai 2 kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relative sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relative konsisten, maka alat ukur tersebut reliable (Sugiyono:267)


LANGKAH-LANGKAH ANALISIS DATA
Setelah data terkumpul hasil pengumpulan data perlu dikerjakan oleh staf pneliti, khususnya yang bertugas mengolah data. Di dalam buku-buku lain sering disebut pengolahan data, ada yang menyebut preparation ada pu la data analisis. Dan menurut Suharsimi Arikunto (2006) langkah-langkah analisis data secara garis besar dapat meliputi 3 langkah, yaitu persiapan, tabulasi dan penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian Persiapan

Kegiatan dalam langkah persiapan ini antara lain:
  1. Persiapan
  2. Mengecek nama dan kelengkapan identitas pengisi. Apalagi instrumen anonim, perlu sekali dicek sejah mana atau identitas apa saja yang sangat diperlukan bagi pengoahan data lebih lanjut.
  3. memeriksa kelengkapan data, artinya memeriksa isi instrument pengumpulan data
  4. memeriksa macam isian data. Jika di dalam instrumen termuat sebuah atau beberapa item yang diisi “tidak tahu” atau isian lain bukan yang dikehendaki peneliti, padahal isinya, padahal isian yang diharapkan tersebut, merupakan variabel pokok, maka item perlu didrop
    1. Tabulasi
G.E.R Burroughas mengemukakan klasifikasi analisis data sebagai berikut:
1. Tabulasi data (The tabulation of the data)
2. Penyimpulan data (the summarizing of the data)
3. Analisis Data untuk tujuan testing hipotesis
4. Analisis data untuk tujuan penarikan
yang termasuk dalam kegiatan tabulasi adalah:
  1. memberikan skolr (scoring) terhadap item-item yang perlu diberi skor. Misalnya tes, angket berbentuk pilihan ganda, rating, scale dan sebagainya.
  2. Memberikan kode-kode terhadap item-item yang perlu diberi skor
  3. Mengubah jenis data, disesuaikn atau dimodifikasi engan teknikanalisis yang akan digunakan
  4. Memberikan coding pada pengolahan data yang menggunakan komputer

  1. Penerapan Data Sesuai dengan pendekatan Penelitian
Artinya yaitu pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus-rumus aturan-aturan yan ada. Data yang telah diterapkan dalam perhitungan adalah data yang disesuaikan dengan ata, yakni., diskrit, ordinal, interval, dan ratio.

ANALISIS DATA DALAM PENELITIAN KUANTITATIF
Analisis data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisi data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verivikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai social, akademis dan ilmiah. Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dan seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan. Tujuan analisa menurut Sofian Effendi dalam bukunya Metode Penelitian Survai (1987 : 231) adalah menyederhanakan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasi. Dalam penelitian strukturalistik, data yang berupa kualitatif (kata-kata) dikuantifikasikan terlebih dahulu kemudian dianalisis secara statistikan bertujuan untuk menjelaskan fenomena, menguji hipotesis kerja dan mengangkat sebagai temuan berupa verifikasi terhadap teori lama dan teori baru. Sedangkan dalam penelitian naturalistik data bisa berupa kata-kata maupun angka. Data yang bersifat kuantitatif (angka) tidak perlu dikualitatifkan terlebih dahulu dan tidak menguji hipotesis/teori, melainkan untuk mendukung pemahaman yang dilakukan oleh data kualitatif dan menghasilkan teori baru.

Tujuan Analisis Data Kuantitatif
Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut.
Dalam analisis data kuantitatif, apa yang dimaksud dengan mudah dimengerti dan pola umum itu terwakili dalam bentuk simbol-simbol statistik, yang dikenal dengan istilah notasi, variasi, dan koefisien. Seperti rata-rata ( u = miu), jumlah (E = sigma), taraf signifikansi (a = alpha), koefisien korelasi (p = rho), dan sebagainya.
Metode Analisis Data Penelitian Kuantitatif
Dalam menganalisa data penelitian strukturalistik (kuantitatif) hendaknya konsisten dengan paradigma, teori dan metode yang dipakai dalam penelitian. Ada perbedaan analisa data dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, analisa data yang dilakukan secara kronologis setelah data selesai dikumpulkan semua dan biasanya diolah dan dianalisis dengan secara computerized berdasarkan metode analisi data yang telah ditetapkan dalam desain penelitian.

Prinsip-prinsip Analisis Data
Dalam proses menganalisa data seringkali menggunakan statistika karena memang salah satu fungsi statistika adalah menyederhanakan data. Proses analisa data tidak hanya sampai disini. Analisa data belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Setelah data dianalisa dan diperoleh informasi yang lebih sederhana, hasil analisa terus harus diinterpetasi untuk mencari makna yang lebih luas dan impilkasi hasil-hasil analisa.

Proses Analisis Data Penelitian Kuantitatif
Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistic yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian, yaitu statistic deskriptif dan statistic inferensial. Statistic inferensial meliputi statistic parametris dan non parametris.
  1. a.      Statistik deskriptif
Statistic deskriptif adalah statistic yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaiamana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Penelitian yang dilakukan pada populasi (tanpa diambil smapelnya) jelas akan menggunakan statistic deskriptif dalam analisisnya. Tetapi bila penelitian dilakukan pada sampel, maka analisisnya dapat menggunakan statistic despkriptif maupun inferensial. Statistic deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data sampel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel dambil. Mengenai data dengan statistik deskriptif peneliti perlu memperhatikan terlebih dahulu jenis datanya. Jika peneliti mempunyai data diskrit, penyajian data yang dapat dilakukan adalah mencari frekuensi mutlak, frekuensi relatif (mencari persentase), serta mencari ukuran tendensi sentralnya yaitu: mode, median dan mean (lebih lanjut lihat Arikunto, 1993: 363).
Sesuai dengan namanya, deskriptif hanya akan mendeskripsikan keadaan suatu gejala yang telah direkam melalui alat ukur kemudian diolah sesuai dengan fungsinya. Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dipaparkan dalam bentuk angka-angka sehingga memberikan suatu kesan lebih mudah ditangkap maknanya oleh siapapun yang membutuhkan informasi tentang keberadaan gejala tersebut
Fungsi statistik deskriptif antara lain mengklasifikasikan suatu data variabel berdasarkan kelompoknya masing-masing dari semula belum teratur dan mudah diinterpretasikan maksudnya oleh orang yang membutuhkan informasi tentang keadaan variabel tersebut. Selain itu statistik deskriptif juga berfungsi menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga data yang dihasilkan dari penelitian dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan.
Analisi statistic deskriptif dapat dibedakan menjadi :
(1) analisis potret data (frekuansi dan presentasi),
(2) analisis kecenderungan sentral data (nilai rata-rata, median, dan modus) serta
(3) analisis variasi nilai (kisaran dan simpangan baku atau varian)

  1. Statistik Inferensial
Pemakaian analisis inferensial bertujuan untuk menghasilkan suatu temuan yang dapat digeneralisasikan  secara lebih luas ke dalam wilayah populasi. Di sini seorang peneliti akan selalu berhadapan dengan hipotesis nihil (Ho) sebagai dasar penelitiannya untuk diuji secara empirik dengan statistik inferensial. Jenis statistik inferensial cukup banyak ragamnya,Peneliti diberikan peluang sebebas-bebasnya untuk memilih teknik mana yang paling sesuai (bukan yang paling disukai) dengan sifat/jenis data yang dikumpulkan. Secara garis besar jenis analisis ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama untuk jenis penelitian korelasional dan kedua untuk komparasi dan/atau eksperimen. teknik analisis dengan statistic inferensial adalah teknik pengolahan data yang memungkinkan peneliti untuk menerik kesimpulan, berdasarkan hasil penelitiannya pada sejumlah sampel, terhadap suatu populasi yang lebih besar. Kesimpulan yang diharapkan dapat dibuat biasanya dinayatakan dalam suatu hipotesis. Oleh karena itu, analisis statistik  inferensial juga bisa disebut analisis uji hipotesis. Inferensi yang sering dibuat oleh peneliti pendidikan dan ilmu social pada umunya berhubungan dengan upaya untuk melihat perbedaan (beda nilai tengah) dan korelasi, baik anatara dua variabel independent maupun anatara beberapa variabel sekaligus. Selisih nilai tengah ataupun nilai koefisien  (correlation coeficient) yang dihasilkan kemudian diuji secara statistic.
Statistic inferensial, sering juga disebut statistic induktif atau statistic probabilitas, adalah teknik statistic yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan utuk populasi. Statistic ini akan cocok digunakan bila sampel diambil dari popualsi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random. Statistik inferensial fungsinya lebih luas lagi, sebab dilihat dari analisisnya, hasil yang diperoleh tidak sekedar menggambarkan keadaan atau fenomena yang dijadikan obyek penelitian, melainkan dapat pula digeneralisasikan secara lebih luas kedalam wilayah populasi. Karena itu, penggunaan statistik inferensial menuntut persyaratan yang ketat dalam masalah sampling, sebab dari persyaratan yang ketat itulah bisa diperoleh sampel yang representatif; sampel yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dimiliki populasinya. Dengan sampel yang representatif maka hasil analisis inferensial dapat digeneralisasikan ke dalam wilayah populasi.
Penggunaan statistic parametris dan non parameter tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris memerlukan terpenuhinya banyak asumsi. Asumsi yang utama adalah data yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu tes mengharuskan data dua kelompok atau lebih yang diuji harus homogen, dalam regresi harus terpenuhi asumsi linieritas.statistik non parametris tidak menuntuk terpenuhinya banyak asumsi, misalnya data yang akan dianalisis tidak harus berdistribusi normal. Oleh karena itu statistic non parametris mempunyai kekuatan yang lebih dari statistic non parametris, bila asumsi yang melandasi dapat terpenuhi.
Dalam dunia statistik dikenal setidaknya terdapat empat jenis data hasil pengukuran, yaitu data Nominal, Ordinal, Interval dan Rasio. Masing-masing data hasil pengukuran  ini memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda antara satu dengan lainnya Penggunaan kedua statistic tersebut juga tergantung pada jenis data yang dianalisis. Statistic parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio, sedangkan statistic non parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal, ordinal. Jadi untuk menguji hipotesis dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan statistic, ada dua hal utama yang harus diperhatikan yaitu, macam data dan bentuk hipotesi yang diajukan.
Dalam statistik parametris menggunakan analisis data yang berupa,
a.       Data Interval
b.       Data Rasio
c.       Data Nominal

ANALISIS DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF
Dalam penilaian kualitatif, data dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif (walaupun tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik analisis data yang digunakan belum ada polanya yang jelas. Oleh karena itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis. Seperti yang dinyatakan oleh beberapa pakar seperti:

a.       Miles and Huberman (1984) bahwa yang paling serius dan sulit d      alam analisis kualitatif adalah karena metode analisis belum dirumuskan dengan baik.
b.      Susan Stainback menyatakan: belum ada panduan dalam penelitian kualitataif untuk mendukung kesimpulan atau teori.
c.     Spradley (1980) menyatakan bahwa analisis dalam penelitian jenis apapun, adalah merupakan cara berfikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menetukan bagian, hubungan antar, dan hubungannya dengan keseluruhan. Analisi adalah untuk mencari pola.



MODEL ANALISIS DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai dilapangan. Dalam hal ini Nasution (1988) menyatakan ”Analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori grounded”. Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses dilapangan bersamaan dengan pengumpulan data .

a.      Analisis Sebelum di Lapangan
Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan atau data skunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama dilapangan.
b.       Analisis Selama di Lapangan Model Miles and Huberman
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaannya lagi sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Miles and Huberman (2984) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai jenuh. Aktifitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display dan conclusion drawing/ferification.
a).   Data reduction (reduksi data)
Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan makin lama peneliti di lapangan, maka jumlah data akan makinbanyak, kompleks dan rumit. Untukn itu perlu segers dilakuakan analissi data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum , memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting, dicari tema dan polanya dan memebuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan memepermudah peneliti untuk melakuakan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinyan bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan elektronik seperti computer mini, dengan memberikan kode-kode pada aspek- aspek tertentu.
b).      Data display (penyajian data)
Setelah data reduksi, maka langkah selanjutnya adalh mendisplaykan data. Kalau dalam penelitian kuantitatif penyajian data ini dapat dilakuakan dalam bentuk table, grafik, pictogram dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersususn dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.

c.       Conclusion Drawing/verification
Langkah ketiga dalam analisis data kulitatif menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila data kesimpulan data yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh kembali bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

c.      Analisis Data Selama di Lapangan Model Spradley
Spradley (1980) membagi analisis data dalam penelitian, berdasarkan tahapan dalam penelitian kualitatif. Tahapan penelitian kualitatif menurut Spradley bahwa proses penelitian kualitatif setelah memesuki lapangan,dimulai dengan menetapkan seseorang informan kunci “key informant”yang merupakan informan yang berwibawa dan dipercaya mampu “membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian.  Setelah itu peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut dan mencatat hasil wawancara. Selanjutnya perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai mengajukan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan hasil dari analisis wawancara selanjutnya peneliti melakukan analisis domain. Pada langkah ketujuh peneliti sudah menentukan fokus dan melakukan analisis taksonomi. Berdasarkan hasil analisi taksonomi, selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilanjutkan dengan analisis komponensial. Hasil dari analisis komponensial, selanjutnya peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasarkan temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian emografi.
Jadi proses penelitian berangkat dari yang luas, kemudian memfokus, dan meluas lagi. Terdapat tahapan analisis data yang dilakukan dalam penelitian kualitatif yaitu analis domain, taksonomi dan komponensial, anlisis tema cultural.
a.       Analisis Domain
Setelah peneliti memasuki obyek penelitian yang berupa situasi sosial yang terdiri atas place, actor, dan avtivity (PPA), selanjutnya melaksakan observasi partisipan, mencatat hasil observasi dan wawancara, melakukan observasi deskriptif, maka langkah selanjutnya  melakukan analisis domain. Adapun macam analisis data kualitatif (Spradley, 1980) dapat dilihat pada bagan dibawah ini.
c.       Analisis Komponensial.
Dalam analisis taksonomi, yang diurai adalah domain yang telah ditetapkan menjadi focus. Melalui analisis taksonomi, setiap domain dicari elemen yang serupa atau serumpun. Ini diperoleh melalui observasi dan wawancara serta dokumentasi yang terfokus.
Pada analisis komponensial, yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain, tetapi justru yang memiliki perbedaan atau yang kontras. Data ini dicari melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi teresbut, sejumlah demensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan.

d.      Analisis Tema Budaya
Analisis tema budaya merupakan upaya mencari “benang merah” yang mengintegrasikan lintas domain yang ada (Sanapiah faisal, 1990). Dengan ditemukan benang merah dari hasil analisis domain, taksonomi, dan komponensial tersebut, maka selanjutnya akan dapat tersusun suatu “konstruksi bangunan” situasi sosial/obyek penelitian yang sebelumnya masih gelap atau remang-remang, dan setelah dilakukan penelitian maka menjadi lebih terang dan jelas.

KESIMPULAN
  1. Analisis data yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasidengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, ,memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

  1. Validitas data merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dilaporkan oleh peneliti.

  1. Reliabilitas data adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dipakai 2 kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relative sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relative konsisten, maka alat ukur tersebut reliable (Sugiyono:267)


  1. Kegunaan Analisis Data yaitu Jadi dapat dikatakan bahwa analisis data digunakan untuk pembuktian dari hipotesa yang telah dibuat sebelumnya

  1. Langkah-langkah penelitian yaitu :
    1. a.      Persiapan
    2. b.      Tabulasi
    3. c.       Penerapan Data Sesuai dengan pendekatan Penelitian

  1. Analisis data dalam penelitian kuantitatif dalam penelitian strukturalistik, data yang berupa kualitatif (kata-kata) dikuantifikasikan terlebih dahulu kemudian dianalisis secara statistikan bertujuan untuk menjelaskan fenomena, menguji hipotesis kerja dan mengangkat sebagai temuan berupa verifikasi terhadap teori lama dan teori baru.

  1. Analisis data dalam penelitian kualitatif, data dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif (walaupun tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik analisis data yang digunakan belum ada polanya yang jelas